Karya : Ekawati
Wahyu Rahmadani
Matahari yang tidur dengan tenangnya
kini perlahan mulai terbangun dari peristirahatannya. Keterbangunannya ini
menandakkan bahwa fajar pagi telah tiba. Pagi yang dingin di ibukota Jakarta.
Dinginnya kota Jakarta mampu membuat orang-orang tak berkutik sedikitpun dari
selimut dan perlengkapannya. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi gadis yang satu
ini. Dia adalah Rani. Ia menganggap bahwa semakin pagi ia bangun, maka semakin
banyak pula rezeki yang ia dapatkan. Rani bukanlah gadis dari kalangan atas. Ia
hanya gadis biasa yang setiap paginya harus mengantarkan koran ke pelanggannya
yang telah berlangganan.
Terkadang juga ia merasakan lelah
dengan rutinitasnya ini. Namun lelah tersebut dapat terobati apabila ia bertemu
dengan sang ibu. Ia tidak akan pernah menunjukkan wajah lelahnya ini pada
ibunya. Rani sekarang hanya tinggal berdua dengan sang ibu. Ayahnya telah lama
meninggal dunia dikarenakan penyakit kanker stadium akhir. Terkadang Rani
menahan semua rasa rindu terhadap ayahnya. Jujur saja, ia telah lama tidak
merasakan hangatnya pelukan dari seorang ayah. Namun dibalik semua itu, ia
tetap bersyukur atas apa yang telah diberikan saat ini.
Tahun ini, Rani resmi terdaftar
menjadi siswi di SMA Harapan. Sekolah yang sangat terkenal dengan kepandaian
siswanya. Rani menggunakan beasiswa untuk bisa masuk di sekolah tersebut. Dan
akhirnya, ia diterima di sekolah itu. Ia berharap sang ayah akan tersenyum di
sana melihatnya kini telah berseragan putih abu-abu.
Perumahan mewah inilah yang menjadi
saksi kegigihan kerja keras Rani.Setiap pagi, ia bekerja sebagai pengantar
koran. Ia sangat senang apabila mengantarkan koran ke perumahan yang mewah ini.
Dalam benaknya, ia bertekad akan bekerja keras agar ia nantinya bisa membelikan
salah satu rumah di perumahan ini untuk sang ibu. Dengan semangat ia menggoes
sepedanya. “Ini adalah koran yang terakhir. Semangat !” ucapnya menyemangati
dirinya sendiri. Sesampainya di rumah yang terakhir ia bertemu dengan sang
empunya yang ternyata adalah seorang nenek. Rani pun menyapanya.
“Selamat pagi nenek” ucap Rani
dengan ramah
“Selamat pagi. Kau ternyata, apa ini
koranmu yang terakhir ? ” tanya sang nenek tersebut.
“Iya nek, ini adalah koran terakhir yang
saya antarkan. Dan ini korannya” Rani menyerahkan koran tersebut.
“Oh, terima kasih ya” ucap sang
nenek berterima kasih.
“Iya nek sama-sama. Kalau begitu
saya permisi dulu nek”. Rani pun segera beranjak pergi dari rumah sang nenek
tadi. Hari ini ia tidak boleh terlambat pulang ke rumah. Karena hari ini adalah
hari pertamanya berseragam putih abu-abu. Ia tahu benar, pasti sang ibu telah
menyiapkan segala persiapannya dan juga sarapan pagi. Maka dari itu ia menggoes
sepedanya lebih kencang lagi. Karena Rani menggoes sepedanya terlalu kencang,
ia tidak melihat jika ada sepeda motor yang menyeberang. Dan…….
Brukk….
Rani beserta sepedanya pun terjatuh. Ia
merintih menahan sakit di lututnya akibat benturan dari aspal jalan tersebut.
“Awww…….” Rintih Rani
Sang
pengendara sepeda motor yang menabraknya pun menolongnya.
“Astaga!!! Maafkan aku” kata pengemudi
sepeda motor tersebut dan dengan segera menghampiri Rani.
“Eh, tidak-tidak. Tadi aku yang salah
karena tidak memperhatikan jalan” kata Rani sambil mengibas-ibaskan tangannya.
“Apa perlu ke rumah sakit ?” tanya
pengendara tersebut yang ternyata seorang laki-laki.
“Tidak perlu, ini hanya luka kecil
biasa. Nanti dengan segera aku akan mengobatinya sesampainya di rumah” jawab
Rani dengan halus
“Bagaimana jika aku mengantarmu
sampai ke rumah ?” tawar laki-laki tersebut.
“Sudah ku bilang tidak perlu, aku
masih bisa mengendarai sepedaku sendiri dengan selamat hingga ke rumah. Kau tak
perlu khawatir” jawab Rani sambil tersernyum dengan ramahnya. Ia tak marah
dengan laki-laki itu yang telah menabraknya. Karena sedari dulu, Rani telah di
didik oleh kedua orang tuanya untuk tidak mempunyai rasa dendam dan marah
terhadap orang lain. Walaupun orang tersebut telah melukai kita, tetaplah
tersenyum padanya. Itulah kata-kata yang selalu ayah Rani katakan padanya.
“Kau serius ?” tanya laki-laki tersebut
memastikan keadaan Rani untuk yang terakhir kalinya.
“Hmmmm….aku serius. Jangan khawatir”
jawab Rani dengan tegasnya agar laki-laki tersebut tidak merasa khawatir lagi
kepadanya.
“Baiklah, kalau begitu biarkan aku
membantumu berdiri” sambil mengulurkan tangannya.
“Oh iya” ucap Rani sambil meneriam
uluran tangan laki-laki itu.
“Terima kasih atas bantuanmu”
“Seharusnya aku yang bertanggung jawab
atas kecelakaan ini dan membawamu ke rumah sakit” kata laki-laki itu merasa
bersalah.
“Sudahlah, jangan kau pikirkan lagi.
Baiklah kalau begitu aku permisi dulu” Rani pun pergi meninggalkan laki-laki yang
menabraknya tadi.
“Dia gadis yang baik” gumam laki-laki
tersebut. Dan ia pun kembali mengendarai sepeda motornya menuju tempat
tujuannya.
Sesampainya di rumah, Rani menaruh
sepedanya di halaman depan rumah. Dan ia berjalan tertatih karena luka yang ada
pada lututnya. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, mengingat kondisinya
yang seperti ini, ia tidak ingin membuat ibunya khawatir. Maka dari itu, dengan
sekuat tenaga ia berjalan seperti biasa. Seolah-olah tak terjadi apa-apa pada
dirinya hari ini.
“Assalamu’allaikum” ucap Rani masuk
ke dalam rumahnya.
“Waalaikumsallam. Kamu sudah sampai
rupanya. Ibu menunggumu dari tadi. Ayo, kita makan bersama. Ibu sudah
menyiapkan sarapan pagi yang enak untukmu” jelas ibunya dengan semangat.
Rani tersenyum getir melihatnya. Ia
tidak mungkin merusak hati ibunya yang tengah bahagia ini hanya karena luka
kecil yang ia alami. Di meja makan sudah tersaji nasi goreng lengkap dengan
telur beserta ayam goreng. Hari ini sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya
batinnya.
“Iya ibu. Tapi Rani harus mandi
dahulu dan berganti seragam”
“Baiklah kalau begitu. Ibu akan
menunggumu” ucap sang ibu. Rani pun bergegas menuju ke kamarnya dengan segera
untuk berganti pakaian. Ia tidak ingin ibunya lama menunggu. Walaupun lututnya masih
terasa sakit, ia tidak akan memanjakkannya. Dalam beberapa menit, kini Rani
telah berganti seragam putih abu-abu. Dan dengan segera ia menuju ke ruang
makan, dimana ibunya telah menunggunya.
“Hari ini adalah hari pertamamu
berseragam putih abu-abu” ucap sang ibu lalu mengambilkan nasi goreng beserta
lauknya.
“Iya bu, hari ini adalah hari pertamaku
berseragam putih abu-abu. Rasanya waktu berjalan cepat sekali” sambil mengunyah
makanannya.
“Ya, memang waktu terasa cepat sekali.
Ibu tidak menyangka jika anak ibu yang dulunya sering menangis, kini telah
berubah menjadi gadis yang mandiri dan kuat”
“Ibu, ini semua karena berkat didikan
ibu dan ayah, aku bisa menjadi gadis yang kuat dan mandiri” jelas Rani sambil
tersenyum manis.
“Iya benar” jawab sang ibu.
“Rani, apa kau baik-baik saja ?” tanya
ibunya
“Iya bu??” heran Rani
“Ibu bertanya padamu, apa keadaanmu
baik-baik saja ?” tanya ibunya mengulangi pertanyaan dan memastikan.
“Rani baik-baik saja bu. Ibu tidak perlu
khawatir” jawab Rani halus. Rani berharap ibunya tidak tahu akan kondisinya
saat ini. Ia tidak ingin ibunya merasa sedih dan khawatir.
“Kau tidak perlu menutupi lukamu itu.
Kau tahu, perasaan seorang ibu tidak akan pernah salah ? Ayo, ceritakan peristiwa yang kau alami tadi
sehingga kau terluka” ucap ibunya halus.
“Baiklah. Tadi pagi Rani terlalu
bersemangat untuk segera pulang ke rumah. Jadi Rani menggoes sepedanya dengan
kencang. Waktu itu, Rani tidak terlalu memperhatikan jalan sehingga Rani
menabrak pengendara sepeda motor. Tapi bu, itu semua murni kesalahan Rani.”
Jelas Rani panjang lebar sambil mengingat peristiwa yang telah ia alami tadi.
“Baguslah jika kau menyadari
kesalahanmu. Lain kali, kau harus memperhatikan jalan apabila sedang
mengendarai sepeda. Kau harus hati-hati” ucap ibunya memberikan nasihat.
“Iya bu” jawab Rani
“Sekarang cepat habiskan sarapanmu”
Setelah itu, Rani bersiap untuk
berangkat ke sekolah. Ia tidak lupa berpamitan dengan sang ibu.
“Ibu, Rani berangkat dulu ya” ucap Rani
sambil mencium tangan sang ibu
“Iya, hati-hati di jalan”
“Assalamu’alaikum”
“Waalaikumsallam”
Dalam perjalanan ke sekolah barunya,
Rani terlihat sangat gembira. Hal tersebut terpancar dari wajahnya yang sangat
berseri-seri. Sesekali ia menyapa tetangganya yang tidak sengaja bertemu di
jalan. Dan kini, ia telah sampai di sekolah barunya, SMA Harapan. Rani pun
memarkirkan sepedanya di tempat parkir yang telah disediakan. Lalu ia berjalan
memasuki sekolahnya. Ia terkagum-kagum dengan bangunan sekolah ini yang sangat
indah dan lingkungannya pun bersih. Banyak pohon di sekitar area sekolah
sehingga memberikan kesan sejuk. Ada pula taman yang biasanya siswa gunakan
untuk sekedar melepas penat. Dan juga dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas
pendukung lainnya yang sangat membantu dalam proses pembelajaran.
“Sekolah ini besar sekali. Tidak
salah jika banyak pelajar yang ingin diterima disini” ucap Rani seraya
memandangi sekeliling area sekolah. Dengan segera Rani pun mencari kelas
barunya.
“Dimana kelasku ?” gumam Rani. Ia
mengelilingi semua bangunan yang ada di sekolah ini untuk mencari
kelasnya. Ia melihat semua kertas yang
ditempelkan di setiap kelas. Dan Rani pun memulai mencari kelasnya.
“Rani Dewi Hanum”gumam Rani sambil
jari telunjuknya ia arahkan pada kertas tersebut untuk mencari namanya. Dan
setelah naik turun anak tangga, Rani pun mengetahui kelas mana yang akan ia
tempati. “Akhirnya ketemu juga. Alhamdulillah, aku dikelas X-IPA 1. Ibu pasti
senang sekali jika mengetahui hal ini” ucap Rani sambil tersenyum memandangi
kelas barunya tersebut. Ia segera memasuki kelasnya.
Di dalam kelas Rani melihat ada
banyak siswa yang telah duduk menempati tempatnya masing-masing. Semua tempat
telah terisi. Kecuali tempat duduk paling belakang yang masih kosong. Tanpa
pikir panjang lagi Rani menuju tempat tersebut. Ia menaruh tasnya diatas meja.
Namun ia masih sangat canggung dengan kondisi kelasnya saat ini. Memang Rani
bukanlah tipe orang yang mudah beradaptasi dengan orang lain. Sebenarnya Rani
adalah gadis yang pendiam apabila ia menghadapi situasi yang baru. Akan memakan
banyak waktu baginya untuk beradaptasi dengan teman-temannya. Ia tidak memiliki
keberanian untuk sekedar berbicara dengan teman barunya. Hari ini memang jam
pelajaran masih belum efektif. Jadi daripada Rani duduk diam di kelas, ia
memutuskan untuk pergi ke taman sekolah sekedar untuk menyegarkan pikirannya
sebelum pelajaran dimulai. “Lebih baik aku ke taman saja” ucap Rani dengan
pelannya. Rani melangkah pergi meninggalkan kelasnya menuju ke taman sekolah.
Rani tidak menghiraukan teman-temannya yang tengah asik bercengkrama.
Sesampainya
di taman, Rani segera duduk di bangku taman yang telah disediakan. “Disini
udaranya jauh lebih segar dan sejuk” ucap Rani sambil menghirup udara segar di
taman. “Hah…mengapa aku tadi tidak membawa buku bacaan” sesal Rani. Ia berani
berbicara karena taman ini sangat sepi. Perkiraannya, taman ini jarang
dikunjungi oleh siswa. “Ayah, apakah ayah sekarang sedang melihatku dari atas
sana ? Rani berharap ayah senang disana karena Rani telah mengabulkan permintaan
ayah sekarang. Namun ayah, tidak adil rasanya jika ayah tidak melihat Rani
untuk pertama kalinya berseragam putih abu-abu. Ayah disana yang tenang ya,
Rani selalu mendoakan ayah agar selalu di sisi-Nya dan ditempatkan di surga ”
ucap Rani sambil melihat birunya langit, membayangkan ayahnya yang kini tengah
melihatnya dari atas sana. Tak terasa, air mata tiba-tiba jatuh di pipinya.
“Rani rindu ayah. Rani berjanji akan belajar dengan baik agar bisa
membahagiakan ibu nantinya” Rani mengusap air mata yang jatuh di pipinya dengan
menggunakan punggung tangannya. Setelah dirasa cukup, Rani pun beranjak untuk
meninggalkan taman tersebut dan kembali ke kelasnya.
Sesampainya di kelas, Rani terkejut
karena sudah ada guru yang mengajar di kelasnya. Ia pun dengan sopan masuk ke
kelasnya dan meminta maaf pada guru tersebut karena terlambat datang. Dan sang
gurupun memakluminya sehingga Rani dipersilahkan untuk duduk di tempatnya. Rani
pun dengan seksama memperhatikan setiap penjelasan dari guru tersebut.
Terkadang ia membuat coretan-coretan kecil apabila ada tugas dari sang guru.
Selama di sekolah, Rani lebih banyak diam daripada bercengkrama dengan teman
barunya. Ia tidak tahu akan berbicara apa dengan temannya. Ia takut jika
nantinya ia salah berbicara dan menyinggung perasaan temannya, dan banyak lagi
ketakutan lainnya. Maka dari itu, dalam seharian ini, ia hanya duduk diam di
bangkunya dan hanya melihat teman-temannya yang sedang tertawa riang. Tiba-tiba
Rani merasa ada yang menepuk pundaknya. “Astaga….” kaget Rani. “Mengapa kau
terkejut ?” ucap orang tersebut lalu duduk disamping Rani. “Oh tidak. Tadi aku
kira siapa, jadi aku terkejut ketika ada orang yang menepuk pundakku” jelas
Rani sambil tersenyum ramah. “Perkenalkan namaku Sekar” ucap gadis tersebut
yang ternyata bernama Sekar. “Namaku Rani. Rani Dewi Hanum” jawab Rani. Setelah
itu keadaan menjadi diam antara Rani dan Sekar. Mereka berdua sibuk dengan
pikirannya masing-masing. Rani yang notabene seorang anak yang pendiam, ia
tidak tahu harus mengucapkan apa. Sebenarnya dalam hatinya banyak sekali
kalimat-kalimat yang ingin ia ucapkan. Namun, ia takut untuk mengucapkannya
terlebih dahulu. “Jangan diam seperti itu. Cobalah untuk berbicara dengan teman
yang lainnya” ucap Sekar pada Rani. “Eh ?” bingung Rani. “Cobalah untuk
beradaptasi dengan kelas ini dan juga teman-teman yang ada disini” ucap Sekar
sekali lagi. “Hmmmm…..Iya, baiklah” balas Rani dengan senyumnya. “Sekar !!!!
Kemarilah !!!!” teriak seorang anak perempuan dengan lantangnya. “Haahh…anak
itu selalu saja berteriak bila ingin memanggil orang” kesal Sekar. “Ya sudah
Rani, aku kesana dulu ya. Anak itu memang tidak tahu aturan. Kau tidak perlu
takut padanya” ucap Sekar menjelaskan panjang lebar. Rani hanya mengangguk
mengerti dengan penjelasan Sekar. Sekarpun pergi meninggalkan Rani. Kini Rani
sendiri lagi.
Satu minggu sudah Rani bersekolah
disini. Pelajaranpun juga sudah dimulai. Dan kini, banyak tugas yang diberikan
oleh guru. Rani harus pintar-pintar membagi waktunya. Pasalnya jika ia tidak
bisa membagi waktunya, maka semuanya akan kacau. Pagi-pagi sekali Rani sudah
bangun seperti biasa. Tak lupa ia melaksanakan rutinitas paginya yaitu
mengantarkan koran ke perumahan mewah itu. “Hah….aku harus cepat. Sudah pukul
06.00” ucap Rani sambil melihat jam tangannya. Kini tinggal satu koran lagi
yang belum ia antarkan. Setelah pekerjaan mengantar korannya selesai, Rani
bergegas untuk berangkat ke sekolah. Memang hari ini ia sengaja langsung
memakai seragam sekolahnya. Ia juga membawa bekal untuk dimakannya pada saat jam
isitirahat nanti. Hari ini secara tiba-tiba guru matematika mengadakan ulangan
dadakan. “Anak-anak, hari ini bapak akan melaksanakan ulangan harian yang
pertama untuk pelajaran matematika” ucap guru matematika tersebut. Sontak
seluruh kelas menjadi ramai dan gaduh akibat perkataan guru tersebut.
“Yaaaahhhh…..Pak, ini baru saja kami masuk sekolah. Masa sudah ada ulangan ”
ucap salah seorang murid yang berbadan besar. “Iya pak benar itu” murid yang
lainnya pun ikut menimpali. Rani yang melihat peristiwa tersebut hanya bisa
diam, Toh jika ia ikut berbicara seperti yang lainnya, tetap saja sang guru
akan melaksanakan ulangan. Maka lebih baik ia diam dan mengikuti segala
prosedur yang telah ada. “Diam semuanya !!!!” ucap guru tersebut. Dan kini
suasana menjadi hening. Tanpa basa basi lagi guru itupun membagikan soal
ulangan matematika. Semua murid tampak sibuk dengan soal beserta jawabannya.
Ada juga murid yang menunggu jawaban dari temannya. Setelah berkutat dengan
ulangan tadi, kini tiba waktunya pikiran mereka diistirahatkan, karena ini
sudah jam istirahat. Rani pun dengan segera mengeluarkan bekal makanan yang ia
bawa dari rumah tadi. Ia melihat teman-temannya sedang berbisik-bisik sambil
melihatnya. ‘Apa ada yang salah denganku
hari ini, sehingga teman-temanku melihatku seperti itu ?’ batinnya. “Ya ! Apa
kau tidak lihat gadis yang bernama Rani itu ? Menurutku dia gadis yang aneh”
ucap gadis berambut keriting itu pada temannya. “Iya. Kupikir ia orang yang
tidak ingin bersosialisasi. Mengerikan sekali” jawabnya sambil bergidik ngeri.
“Benar apa yang kau katakan. Mungkin dibalik diamnya itu terdapat sesuatu yang
bisa membahayakan kita” ucap gadis berkacamata. Kini ketiga gadis itu tengah
memperhatikan setiap gerak-gerik Rani dari kejauhan. “Kita patut waspada. Daripada
kita memperhatikan dia seperti ini, lebih baik kita ke kantin saja” ajak gadis
berambut keriting pada temannya. “Ayo…ayo” jawab mereka serentak.
Keesokannya, seluruh kelas heboh
karena hasil ulangan kemarin. Mereka tak menyangka jika orang yang selama ini
mereka pandang sebelah mata ternyata tidak pantas untuk disepelekan begitu
saja. Seperti peribahasa mengatakan air tenang menghanyutkan. Selama ini Rani
tidak pernah berbicara bukan berarti ia orang yang pendiam dalam hal pelajaran.
Prinsipnya, ia boleh saja diam dikala teman-temannya bercengkrama bersama.
Tetapi dalam hal pelajaran, ia tidak akan diam. Ia akan berusaha keras untuk
memperoleh nilai yang baik. Dan sekarang jerih payahnya tidak sia-sia. “Kau ini
pandai sekali. Bagaimana bisa kau menjawab semua soal itu dengan benar ?” tanya
teman yang duduk didepannya “Iya. Ternyata dibalik diammu itu ada sesuatu yang
terpendam. Seperti emas saja” puji yang lainnya. “Ajari kami supaya mendapatkan
nilai yang bagus sepertimu ya” ucap Sekar yang tiba-tiba datang. “Iya. Dengan
senang hati aku akan mengajari kalian” jawab Rani dengan halus. “Oh iya, kau
juga tidak perlu sungkan untuk meminta bantuan dari kami” ucap temannya lagi.
Rani hanya menjawabnya dengan anggukan serta senyuman hangatnya. Bel pulang sekolah
sudah berbunyi, menandakan waktunya untuk kembali ke rumah. Rani segera menuju
ke tempat parkir untuk mengambil sepedanya. “Rani, aku pulang duluan ya” ucap
Sekar berjalan mendahului Rani. “Iya” jawab Rani. Sesampainya di tempat parkir,
Rani terkejut karena ban sepedanya bocor. Dan disekitar sekolahnya pun tak ada
bengkel. Ia sangat panik.
Bagaimana ia bisa pulang jika sepedanya seperti ini. Jarak sekolah ke rumahnya
pun lumayan jauh. Ditengah kesedihannya meratapi sepeda yang bocor itu,
tiba-tiba ada seorang pengendara motor yang berhenti di depannya. “Mengapa
dengan sepedamu ?” tanya pengendara motor tersebut yang ternyata seorang
laki-laki. Rani tidak mengindahkan suara tersebut dan ia masih terus menunduk.
“Apa kau mendengarku ?” ucap laki-laki tersebut sambil menepuk pundak Rani. Rani pun segera
menoleh kepada orang yang telah menepuk pundaknya tadi. “Kau ??” kaget
laki-laki tersebut. Rani hanya bisa diam melihat laki-laki tersebut. Ia tidak
berani berbicara dengan anak laki-laki. Ia takut sekali. “Hei..Mengapa kau
takut seperti itu padaku ??” heran laki-laki tersebut. “Oh…Eh…a..a..ak..aku”
jawab Rani tergagap karena ia takut sekali apabila berhadapan dengan laki-laki
yang belum pernah dikenalnya. “Kita bertemu lagi. Kau tidak mengenaliku ?”
tanya laki-laki tersebut memastikan. Rani hanya menjawab dengan anggukan
kepala. “Baiklah jika kau tidak ingin berbicara padaku. Tapi boleh kutahu ada
apa dengan sepedamu ?” tanyanya lagi dengan halus. “Sepedaku bannya bocor”
jawab Rani pelan namun masih didengar oleh laki-laki tersebut. Bila
dilihat-lihat, laki-laki ini masih satu sekolah dengan Rani. Buktinya saja
seragam sekolah mereka sama. Terbesit niatan Rani untuk meminta bantuannya.
Namun sebelum ia mengutarakan niatnya tersebut, laki laki itu berkata “Tidak
perlu khawatir, aku akan membantumu. Ini sebagai ganti rugiku yang telah
menabrakmu dulu” ucap laki-laki tersebut sambil melihat-lihat ban sepeda Rani.
“Ini tidak bocor. Hanya kempes saja” ucapnya lagi. “Oh” gumam Rani pelan. “Kau
tunggu disini dulu, akan kupinjamkan pompa sepeda di sekitar sini“. Beberapa
menit kemudian laki-laki tersebut kembali dengan membawa pompa sepeda. Dan
akhirnya sepeda Rani bisa digunakan kembali. “Terima kasih, kak…..” ucap Rani
menggantung karena tidak tahu siapa nama laki-laki tersebut. “Adit” jawab
laki-laki tersebut yang ternyata bernama Adit. “Oh iya, terima kasih kak Adit”
ucap Rani. “Ya sudah kalau begitu aku pulang duluan ya. Oh iya, hati-hati di
jalan” ucap Adit sambil menancapkan gas sepeda motornya.
Hari-hari Rani lalui dengan
semangat. Kini sedikit demi sedikit Rani bisa beradaptasi dengan
teman-temannya. Berkat kepandaiannya, banyak orang yang bertanya padanya.
Seperti peribahasa semakin tinggi pohon, maka semakin banyak angin yang
meniupnya.Tetapi dibalik itu semua ada orang yang ingin menjatuhkan Rani. Saat
jam istirahat, Rani gunakan untuk pergi ke perpustakaan. Ia ingin meminjam buku
baru lagi. Dan kelaspun sepi. Waktu itulah Lutfi gunakan untuk mengambil buku
pekerjaan Rani yang berisi tugas yang harus dikumpulkannya hari ini. Dan ia
segera membuangnya agar tidak ada orang yang menemukannya. “Kita buktikan
seberapa kuat diammu itu. Apa dengan hilangnya bukumu itu, kau akan tetap
berdiam diri dan mencarinya seorang diri ? Jangan pernah mengalahkanku” ucap
Lutfi sambul tersenyum sinis. Istirahat pun selesai. Dan kini waktunya
pengumpulan buku tugas. “Dimana bukuku ???” panik Rani. Ia mencari diseluruh
tasnya dan juga laci meja tetapi tidak ada. Sementara Rani sibuk mencari
bukunya, terpancar kebahagiaan serta kemenangan dari raut wajah Lutfi. “Siapa
yang belum mengumpulkan buku tugas ?” tanya guru tersebut. Rani pun mengangkat
tangan kanannya. “Rani ?” kaget guru tersebut dan segera menghampiri bangku
Rani. “Ada apa denganmu sehingga tidak mengumpulkan buku tugas ?” tanya guru
tersebut dengan serius. “Saya sudah mengerjakannya pak kemarin, dan buku
tugasnya juga sudah saya persiapkan kemarin di tas. Tetapi sekarang buku tugas
saya tidak ada pak di tas. Saya sudah mencarinya di laci meja” ucap Rani
panjang lebar. “Apa kamu tahu konsekuensi jika tidak mengumpulkan tugas ?”
tanya guru tersebut dengan tegasnya. “Iya pak. Konsekuensinya, saya harus
keluar dari kelas hingga pelajaran bapak berakhir” ucap Rani sambil menunduk.
“Baiklah, kalau begitu cepat laksanakan!” perintah sang guru. Rani pun berjalan
dengan lemas menuju keluar kelas. Banyak pasang mata memperhatikan Rani dengan
berbagai macam ekspresi. Ada yang sedih, kaget dan juga bingung. Seberapa besar
Rani menjelaskannya pasti sang guru akan tetap pada pendiriannya. Di luar
kelas, Rani hanya berdiam diri. Sesekali ia mendengarkan penjelasan dari guru
walaupun tidak terlalu jelas dari luar kelas. Terdengar langkah kaki yang
terburu-buru dari arah samping kelasnya. Dengan tiba-tiba ia berhenti di depan
Rani dan memperhatikannya. “Kita bertemu lagi” sapanya ramah. “Eh ??” ucap Rani
sambil mengangkat kepalanya. “Mengapa kau berdiri disini ?” tanya lelaki
tersebut yang ternyata Adit. “A…a..ak..aku” gagap Rani. Belum selesai Rani
melanjutkan ucapannya, pintu kelasnya terbuka dan sang guru mempersilahkan Rani
untuk masuk kambali. Rani dengan segera masuk ke kelasnya tanpa menghiraukan
kehadiran Adit. “Apa dia selalu takut jika bertemu denganku ? Sebegitu
menyeramkankah aku ?” gumam Adit pada dirinya sendiri. Dan ia pun melanjutkan
langkahnya menuju ke kantin.
Di dalam kelas, semua memerhatikan
kedatangan Rani. Wajah mereka seakan menyiratkan rasa ketidakpercayaannya pada
Rani yang mereka anggap sebagai anak yang rajin, baik, sopan dan pendiam
ternyata dia bisa juga tidak mengerjakan tugas. “Lihat dia. Apa sekarang kau
percaya padanya ?” bisik Lutfi dengan teman sebangkunya. Ia berusaha
menjelekkan Rani. “Aku tidak menyangka jika ia begitu” jawab temannya dengan
sangat pelan. “Aku tidak ingin berteman dengannya jika dia seperti itu. Dia
memang misterius sekali” ujar gadis yang lainnya ikut membicarakan Rani. Rani
yang mendengar teman-temannya sedang membicarakannya pun hatinya merasa miris.
Mengapa hanya dengan peristiwa semacam ini, ia dimusuhi oleh teman satu
kelasnya sendiri. Rasanya tidak masuk akal sekali. Ia hanya bisa berdiam diri
dibangkunya. Tidak ada teman yang ia ajak untuk bicara dan berbagi. Ia kini
sendiri. Bel pulang sekolah telah berbunyi. Rani bersiap untuk pulang. Ia
berjalan gontai menuju tempat parkir. Sesampainya disana ia mengambil sepedanya
dan tiba-tiba saja ada es krim di depannya. “Untukmu” ucap orang tersebut
sambil memberikan es krim kepada Rani. “Kau selalu saja takut padaku jika aku
berbicara denganmu. Maka dari itu, untuk mengurangi rasa takutmu, kubelikan kau
es krim ini” jelas Adit. “Ini, ambillah. Kau tidak ingin kan tenganku lengket
akibat es krim ini ?” ucap Adit lagi sambil melihat tangannya yang terkena
cairan es krim yang meleleh. “Terima kasih” kata Rani pelan. “Mau pulang ya ?”
tanya Adit lagi. Rani hanya menjawab dengan anggukan kepala. Adit sudah bisa
menebaknya. Rani berjalan pergi meninggalkan Adit yang masih berdiri di
depannya. “Apa kau seorang yang pendiam ? Susah sekali mengajakmu berbicara”
ucap Adit sambil terus memandangi kepergian Rani.
Sesampainya di rumah, Rani langsung
masuk ke kamarnya. Ibunya yang merasa aneh dengan sikap Rani pun segera ke
kamar anak satu-satunya terebut. “Ada apa denganmu ?” ucap sang ibu halus
sambil duduk di sebelah Rani. “Tidak apa-apa bu” ucap Rani halus. “Jangan
pernah berbohong kepada ibu dan jangan pernah memendam semuanya sendiri.
Sekarang ceritakan kepada ibu, ada masalah apa ?” tanya ibunya halus. “Ibu, apa
sebenarnya Rani orang yang menakutkan ?” tanya Rani pada ibunya. “Siapa yang
mengatakan seperti itu ? Kamu orang yang baik. Jangan pernah berpikir jika kamu
orang yang menakutkan.” Kata ibunya dengan halus disertai senyumnya. Ia tahu
keadaan sang anak sekarang yang sedang ada masalah di sekolahnya. “Dan lagi,
mengapa teman-teman Rani tidak ada yang dekat dengan Rani ? Mengapa mereka
tidak ada disaat Rani membutuhkan mereka ?” tanya Rani bertubi-tubi. Tanpa Rani
sadari, air matanya jatuh. Ia menangis dihadapan sang ibu. Sebenarnya, Rani
tidak ingin menangis di depan ibunya, tapi keadaanlah yang membuatnya ingin
menangis. Ibunya yang mengetahui anaknya menangis langsung memeluknya,
memberikan kesan hangat padanya agar ia tenang. “Tenanglah. Ibu akan selalu
disisimu. Menagislah jika itu membuatmu menjadi tenang” ucap ibunya menenagkan
Rani. “Hiks…hiks…Ibu, Rani tidak tahan bu seperti ini. Rani lelah dengan semua
ini. Mengapa mereka memperlakukan Rani dengan semena-mena ?” tanya Rani dalam
dekapan ibunya. “Rani, mereka memperlakukanmu seperti itu bukan berarti mereka
takut denganmu. Justru kamu harus bersyukur mereka takut kepadamu. Takut dalam
kata ini jangan kau artikan yang negatife.
Justru kamu harus mempunyai pikiran bahwa mereka takut kepadamu berarti
kamu itu orang yang disegani” jelas ibunya. “Iya bu, Rani mengerti.”
Ucap Rani sambil menghapus
air matanya dengan tangannya. “Ya sudah, jangan dipikarkan lagi perkataan
temanmu yang seperti itu. Anggap saja kamu tidak pernah mendengarnya. Jika kamu
terus memikirkannya itu akan berakibat pada kondisi kesehatanmu”ucap ibu sambil
mengelus rambut Rani. “Baiklah bu, Rani akan mencobanya. Doakan Rani ya bu,
semoga Rani lancar dan kuat menghadapi segala cobaan yang ada disekolah”.
Hari-hari Rani lalui dengan diam dan
duduk di bangku kelasnya. Kini ia sendiri lagi. Tidak ada teman disampingnya.
Namun, dalam hal pelajaran Rani tetap bisa memperoleh nilai yang baik. “Rani,
jangan berdiam diri saja. Kau membuat kami takut dengan diammu itu” ucap Lutfi
berjalan menghampiri Rani. Rani hanya diam mendengarnya. “Apa kau ingin seluruh
teman satu kelasmu merasa takut dengan diammu itu ?” tanya Lutfi dengan sinis.
“Kau itu, bisakah berbicara jika ada orang lain yang mengajakmu bicara ? Jangan
hanya diam saja. Oh, apa
karena kau anak yang pintar maka kau bersikap acuh pada kami ? Jawablah !!!!”
bentak Lutfi. “Terima kasih atas saranmu. Akan aku usahakan untuk lebih banyak
bicara pada orang lain. Kau tahu peribahasa air tenang menghanyutkan ? Memang
aku orang yang pendiam, tetapi diamku itu bukan berarti aku tidak ingin
berbicara pada orang lain. Aku hanya takut jika aku berbicara akan menyakiti
hati orang lain. Aku berharap kau bisa menerima jawaban dariku” jelas Rani
dengan halus disertai senyuman manisnya. Ia tidak akan meluapkan emosinya hanya
karena Lutfi berkata seperti itu padanya. Ia teringat dengan perkataan ibunya bahwa
ia tidak boleh emosi dalam menghadapi segala sesuatu. Baik ia dihina temannya
pun jangan pernah emosi atau marah. “Cih…Kau itu sok berwibawa. Katakan saja
sebenarnya di dalam hatimu kau itu menahan segala rasa emosi mu kan. Cepat
tunjukkan padaku bagaimana orang pendiam marah ? Apakah diammu itu berarti kau
marah ?” ejek Lutfi. Sekali lagi Rani hanya diam mendengarnya. Ingin rasanya ia
menangis saat ini juga tetapi itu tidak mungkin. Jika ia menangis, itu
menandakan bahwa ia adalah orang yang lemah. “Ada apa ini ?” tanya Sekar yang
tiba-tiba datang dan langsung menghampiri Rani dan Lutfi. Ia melihat situasi
diantara keduanya sedang tidak baik. “Tidak ada apa-apa Sekar. Tadi Lutfi ingin
mengajakku ke kantin, tetapi aku tidak bisa” ucap Rani berbohong. “Benarkah itu
Lutfi ?” tanya Sekar menyelidik. “I..iy..iya. Itu benar. Hehe” ucap Lutfi
sambil cengengesan. Dan ia pun segera pergi meninggalkan Rani dan Sekar.
“Sebenarnya ada apa ?” tanya Sekar yang kini duduk disebelah Rani. “Kau tidak
perlu khawatir Sekar, tidak terjadi hal yang serius padaku dan Lutfi” jelas
Rani halus. “Baguslah jika begitu” lega Sekar. “Kau harus hati-hati padanya.
Dia itu orangnya licik” ucap Sekar lagi. “Jangan berbicara seperti itu. Dia itu
orang yang baik.” Jawab Rani. “Kau itu terlalu baik kepada orang lain”.
Tak terasa waktu berjalan begitu
cepat. Kini Rani tengah mempersiapkan diri untuk Ujian Kelulusan. Sejak
peristiwa itu, hubungan Rani dengan Lutfi serta teman-temannya yang lain
semakin buruk saja. Sikap Rani di sekolah juga belum berubah. Ia masih saja
berdiam diri sendiri. Dulu, ada seorang guru yang menegur sifat Rani yang
pendiam. Guru tersebut menganggap Rani tidak bisa bersosialisasi dengan
lingkungannya. Rani hanya bisa bersabar saja. Ia harap teman-temannya akan mengerti
dirinya. “Rasanya, aku ingin sekali mempunyai kesan yang mendalam saat SMA”
gumam Rani pelan. Ia sedang duduk di taman sekarang. Menurutnya, taman bisa
memberikan penyegaran baginya. “Apa kalian menganggapku tidak ada ?” tanyanya
pada diri sendiri. “Hei, kita berjumpa lagi” sapa Adit ramah. “Ka..ka..kakak
?”ucap Rani tergagap. “Satu hal yang ingin aku tanyakan padamu. Dari dulu aku
penasaran sekali, mengapa kau selalu takut jika setiap bertemu denganku ? Apa
aku sebegitu menyeramkankah dimatamu ?”tanya Adit bertubi-tubi. “Kakak, apa
kakak sedang menginterogasiku ?”tanya Rani. Kini Rani mulai akrab dengan kakak
kelasnya ini.”Yeeeeeaaahhhhhhh…..Akhirnya kau bicara juga
denganku.Tunggu…tunggu..ehhmmm…tadi kau mengucapkan..satu,dua…ahhh…lima kata.
Ya,kau tadi mengucapkan lima kata”sambil menghitung dengan
girangnya.Sontak,Rani tertawa terbahak-bahak mendengarnya.”Kakak ini ternyata
lucu sekali”sambil tertawa.”Kalau kau tertawa begitu,wajahmu menjadi
cerah”.”Kakak,bolehkah aku bertanya padamu?”ucap Rani serius.”Katakanlah.Aku
akan menjadi pendengar yang baik untukmu”jawab Adit.”Bagaimana perasaanmu jika
selama di SMA, kau tidak mempunyai kesan indah serta teman baik? ”tanya Rani
sambil memandang lurus kedepan.Hening sesaat diantara keduanya.”Tidak apa jika
aku tak punya kesan yang indah semasa SMA, yang terpenting aku bersekolah bukan
untuk mencari teman.Melainkan aku sekolah untuk menuntut ilmu.Biarkanlah orang
berkata negatife
padamu.Tetaplah pegang prinsipmu.Mungkin selama di SMA ini kau tidak mempunyai
teman,tetapi dimasa yang akan datang nanti siapa yang tahu kau jadi apa.Mungkin
saja,kau akan lebih sukses daripada orang yang telah meremehkanmu
itu.Bersabarlah”jelas Adit dengan bijaknya.”Kakak,kau tahu,pemikiranmu sungguh
bijak sekali”puji Rani.”Aku senang sekali kau sudah bisa berbicara
denganku.Mulai sekarang,jangan pernah takut jika ada orang yang ingin
mengajakmu bicara.Kau paham?”ucap Adit menghadap ke Rani.”Aku paham.Oh
iya,sudah bel masuk.Aku ke kelas dulu ya kak”ucap Rani sambil berlari
meninggalkan Adit.”Hari ini indah sekali”ucap Adit sambil melihat langit.
Bel pulang sekolah telah
berbunyi.Semua murid berhamburan untuk keluar sekolah.Suasana di sekitar
sekolah pada jam pulang pun ramai.Banyak kendaraan yang berhenti didepan
sekolah,sehingga menyebabkan kemacetan kecil.Rani tengah menuntun sepedanya
menuju gerbang sekolah.Rencananya hari ini,ia akan berkunjung ke makam
ayahnya.Namun,sebelum ia sampai didepan gerbang sekolah, langkahnya terhenti
dan pandangannya tertuju pada Lutfi yang tengah menyeberang tanpa melihat
kondisi jalan yang ramai dikarenakan ia sedang memainkan ponselnya.”Lutfi
awaaaaaas !!!!!!”teriak Rani berlari kearah Lutfi dan mendorong tubuh Lutfi
hingga ke tepi jalan.Lutfi terselamatkan,hanya ada luka kecil akibat benturan
aspal.Namun Rani,ia pingsan ditempat karena tertabrak mobil.Lutfipun segera
bangkit menghampiri Rani yang kini tengah dikerumuni oleh banyak siswa serta
warga sekitar.”Ra…Ra..Rani”ucap Lutfi tergagap tidak percaya.Ternyata orang
yang menyelamatkan nyawanya adalah Rani,orang yang sangat Lutfi benci.”Tidak
mungkin.Rani,bangunlah !!! Kau pasti sedang bergurau saja kan ? Cepat bangunlah
!!! Apa kau pikir dengan cara seperti ini,aku mau bersahabat denganmu eoh ?
Bangunlah gadis menakutkan!!!!!!”teriak Lutfi histeris sambil mengguncangkan
tubuh Rani yang pingsan.
Dua minngu sudah Rani dirawat di
rumah sakit.Dan ia senang karena peristiwa tersebut,sikap Lutfi berubah
padanya.Ia kini lebih baik pada Rani.Lutfi kini telah menyadari
kesalahannya.Kebahagiaan Rani bertambah tatkala semua teman-temannya yang tak
pernah menyapanya barang sekalipun,mulai bersikap baik juga padanya.Kesabaran
Rani selama ini membuahkan hasil yang baik.”Rani,kudengar kau mendapatkan
beasiswa ke Inggris”ucap Sekar.”Benarkah itu?Aku sama sekali tidak mengetahuinya”jawab
Rani halus.”Itu memang benar”ucap Adit yang baru saja datang.”Kakak?”heran
Rani.”Hai”sapanya.”Disaat kau sakit seperti ini,kau tetap saja diam.Coba aku
lihat,apa ini sakit?”sambil memegang luka yang ada di tangan Rani.Kontan saja
Rani merintih kesakitan.”Awww…”rintihnya menahan sakit.”Masih sama.Apa kau akan
mengatakan jika lukamu itu biasa saja?”tanya Adit.”Apa maksud kakak?”tanya Rani
heran.”Sudahlah,tak perlu dibahas.Ini semua berkasmu untuk berangkat ke Inggris
lusa”sambil menyerahkan beberapa dokumen penting.”Jadi,ini semua…”ucapan Rani
terpotong oleh ucapan Lutfi “Iya gadis pendiam.Kau mendapat beasiswa ke
Inggris.Bukankah itu impianmu selama ini?”tanya Lutfi.Rani mulai terharu
mendengar semua ucapan dari temannya.”Terima kasih semuanya.Aku berjanji akan
merubah sikap diamku ini.Aku akan membuktikan jika dibalik diamku ini ada emas
yang orang lain tak tahu.Maafkan aku karena telah membuat kalian merasa takut
padaku”ucap Rani disertai airmata.”Sudahlah,yang lalu biarlah berlalu.Jangan dipikirkan
lagi”ucap Lutfi mendekat pada Rani sembari memeluknya hangat.”Terima kasih”.
Kini tiba saatnya Rani berangkat ke
Inggris.Ia akan mewujudkan impiannya selama ini.Ibu Rani sekarang sudah
mempunyai rumah sendiri dan tak perlu mengontrak lagi.Rumah tersebut adalah
rumah pemberian ayah Lutfi kepada Rani yang telah menyelamatkan nyawa
anaknya.Teman-teman Ranipun ikut mengantarkan kepergian Rani.”Semoga disana
kamu menjadi anak yang berguna ya.Ingat, jangan lupa ibadahnya”nasihat sang ibu
sambil memeluk Rani.”Iya bu”jawab Rani.”Rani,terima kasih telah mengajarkan
kami bagaimana cara menghargai orang lain”ucap Lutfi.”Iya,maafkan aku karena
selama ini hanya bersikap diam kepada kalian semua”.Terdengar suara pengumuman
keberangkatan’Pengumuman ditujukan kepada seluruh penumpang,bahwa pesawat
dengan tujuan Inggris akan segera diberangkatkan’.”Sudahlah,cepat berangkat.Kau
tidak ingin ketinggalan pesawatmu kan?”tanya Sekar.”Baiklah,aku berangkat
ya.Jaga diri semuanya.”ucap Rani meninggalkan sahabatnya beserta ibunya sambil
melambaikan tangan dengan senyum bahagianya.
Batu yang sangat keras apabila
ditetesi air sedikit demi sedikit pasti akan berlubang.
Bersabarlah dalam menghadapi segala
sesuatu. Suatu saat nanti,pintu kebahagiaan akan
terbuka lebar untukmu.Biarkanlah
orang lain berpikir negative terhadapmu.Kau akan
merasa hidupmu lebih indah jika
menghadapi suatu masalah.Dengan masalah itu,kita
diuji agar bisa menghadapinya dengan
ikhlas.Raihlah impianmu setinggi langit.
Jangan biarkan impian yang telah kau
genggam,terbuang sia-sia seperti angin yang
tak berbekas.
