Kamis, 06 November 2014

Cerpen : Dibalik Diamku




Di Balik Diamku
Karya : Ekawati Wahyu Rahmadani

Matahari yang tidur dengan tenangnya kini perlahan mulai terbangun dari peristirahatannya. Keterbangunannya ini menandakkan bahwa fajar pagi telah tiba. Pagi yang dingin di ibukota Jakarta. Dinginnya kota Jakarta mampu membuat orang-orang tak berkutik sedikitpun dari selimut dan perlengkapannya. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi gadis yang satu ini. Dia adalah Rani. Ia menganggap bahwa semakin pagi ia bangun, maka semakin banyak pula rezeki yang ia dapatkan. Rani bukanlah gadis dari kalangan atas. Ia hanya gadis biasa yang setiap paginya harus mengantarkan koran ke pelanggannya yang telah berlangganan.
            Terkadang juga ia merasakan lelah dengan rutinitasnya ini. Namun lelah tersebut dapat terobati apabila ia bertemu dengan sang ibu. Ia tidak akan pernah menunjukkan wajah lelahnya ini pada ibunya. Rani sekarang hanya tinggal berdua dengan sang ibu. Ayahnya telah lama meninggal dunia dikarenakan penyakit kanker stadium akhir. Terkadang Rani menahan semua rasa rindu terhadap ayahnya. Jujur saja, ia telah lama tidak merasakan hangatnya pelukan dari seorang ayah. Namun dibalik semua itu, ia tetap bersyukur atas apa yang telah diberikan saat ini.
            Tahun ini, Rani resmi terdaftar menjadi siswi di SMA Harapan. Sekolah yang sangat terkenal dengan kepandaian siswanya. Rani menggunakan beasiswa untuk bisa masuk di sekolah tersebut. Dan akhirnya, ia diterima di sekolah itu. Ia berharap sang ayah akan tersenyum di sana melihatnya kini telah berseragan putih abu-abu.
            Perumahan mewah inilah yang menjadi saksi kegigihan kerja keras Rani.Setiap pagi, ia bekerja sebagai pengantar koran. Ia sangat senang apabila mengantarkan koran ke perumahan yang mewah ini. Dalam benaknya, ia bertekad akan bekerja keras agar ia nantinya bisa membelikan salah satu rumah di perumahan ini untuk sang ibu. Dengan semangat ia menggoes sepedanya. “Ini adalah koran yang terakhir. Semangat !” ucapnya menyemangati dirinya sendiri. Sesampainya di rumah yang terakhir ia bertemu dengan sang empunya yang ternyata adalah seorang nenek. Rani pun menyapanya.
            “Selamat pagi nenek” ucap Rani dengan ramah
“Selamat pagi. Kau ternyata, apa ini koranmu yang terakhir ? ” tanya sang nenek tersebut.
“Iya nek, ini adalah koran terakhir yang saya antarkan. Dan ini korannya” Rani menyerahkan koran tersebut.
            “Oh, terima kasih ya” ucap sang nenek berterima kasih.
            “Iya nek sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu nek”. Rani pun segera beranjak pergi dari rumah sang nenek tadi. Hari ini ia tidak boleh terlambat pulang ke rumah. Karena hari ini adalah hari pertamanya berseragam putih abu-abu. Ia tahu benar, pasti sang ibu telah menyiapkan segala persiapannya dan juga sarapan pagi. Maka dari itu ia menggoes sepedanya lebih kencang lagi. Karena Rani menggoes sepedanya terlalu kencang, ia tidak melihat jika ada sepeda motor yang menyeberang. Dan…….
Brukk….
Rani beserta sepedanya pun terjatuh. Ia merintih menahan sakit di lututnya akibat benturan dari aspal jalan tersebut.
            “Awww…….” Rintih Rani
Sang pengendara sepeda motor yang menabraknya pun menolongnya.
“Astaga!!! Maafkan aku” kata pengemudi sepeda motor tersebut dan dengan segera menghampiri Rani.
“Eh, tidak-tidak. Tadi aku yang salah karena tidak memperhatikan jalan” kata Rani sambil mengibas-ibaskan tangannya.
            “Apa perlu ke rumah sakit ?” tanya pengendara tersebut yang ternyata seorang laki-laki.
“Tidak perlu, ini hanya luka kecil biasa. Nanti dengan segera aku akan mengobatinya sesampainya di rumah” jawab Rani dengan halus
            “Bagaimana jika aku mengantarmu sampai ke rumah ?” tawar laki-laki tersebut.
            “Sudah ku bilang tidak perlu, aku masih bisa mengendarai sepedaku sendiri dengan selamat hingga ke rumah. Kau tak perlu khawatir” jawab Rani sambil tersernyum dengan ramahnya. Ia tak marah dengan laki-laki itu yang telah menabraknya. Karena sedari dulu, Rani telah di didik oleh kedua orang tuanya untuk tidak mempunyai rasa dendam dan marah terhadap orang lain. Walaupun orang tersebut telah melukai kita, tetaplah tersenyum padanya. Itulah kata-kata yang selalu ayah Rani katakan padanya.
“Kau serius ?” tanya laki-laki tersebut memastikan keadaan Rani untuk yang terakhir kalinya.
“Hmmmm….aku serius. Jangan khawatir” jawab Rani dengan tegasnya agar laki-laki tersebut tidak merasa khawatir lagi kepadanya.
“Baiklah, kalau begitu biarkan aku membantumu berdiri” sambil mengulurkan tangannya.
            “Oh iya” ucap Rani sambil meneriam uluran tangan laki-laki itu.
            “Terima kasih atas bantuanmu”
“Seharusnya aku yang bertanggung jawab atas kecelakaan ini dan membawamu ke rumah sakit” kata laki-laki itu merasa bersalah.
“Sudahlah, jangan kau pikirkan lagi. Baiklah kalau begitu aku permisi dulu” Rani pun pergi meninggalkan laki-laki yang menabraknya tadi.
“Dia gadis yang baik” gumam laki-laki tersebut. Dan ia pun kembali mengendarai sepeda motornya menuju tempat tujuannya.
            Sesampainya di rumah, Rani menaruh sepedanya di halaman depan rumah. Dan ia berjalan tertatih karena luka yang ada pada lututnya. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, mengingat kondisinya yang seperti ini, ia tidak ingin membuat ibunya khawatir. Maka dari itu, dengan sekuat tenaga ia berjalan seperti biasa. Seolah-olah tak terjadi apa-apa pada dirinya hari ini.
            “Assalamu’allaikum” ucap Rani masuk ke dalam rumahnya.
“Waalaikumsallam. Kamu sudah sampai rupanya. Ibu menunggumu dari tadi. Ayo, kita makan bersama. Ibu sudah menyiapkan sarapan pagi yang enak untukmu” jelas ibunya dengan semangat.
            Rani tersenyum getir melihatnya. Ia tidak mungkin merusak hati ibunya yang tengah bahagia ini hanya karena luka kecil yang ia alami. Di meja makan sudah tersaji nasi goreng lengkap dengan telur beserta ayam goreng. Hari ini sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya batinnya.
            “Iya ibu. Tapi Rani harus mandi dahulu dan berganti seragam”
            “Baiklah kalau begitu. Ibu akan menunggumu” ucap sang ibu. Rani pun bergegas menuju ke kamarnya dengan segera untuk berganti pakaian. Ia tidak ingin ibunya lama menunggu. Walaupun lututnya masih terasa sakit, ia tidak akan memanjakkannya. Dalam beberapa menit, kini Rani telah berganti seragam putih abu-abu. Dan dengan segera ia menuju ke ruang makan, dimana ibunya telah menunggunya.
“Hari ini adalah hari pertamamu berseragam putih abu-abu” ucap sang ibu lalu mengambilkan nasi goreng beserta lauknya.
“Iya bu, hari ini adalah hari pertamaku berseragam putih abu-abu. Rasanya waktu berjalan cepat sekali” sambil mengunyah makanannya.
“Ya, memang waktu terasa cepat sekali. Ibu tidak menyangka jika anak ibu yang dulunya sering menangis, kini telah berubah menjadi gadis yang mandiri dan kuat”
“Ibu, ini semua karena berkat didikan ibu dan ayah, aku bisa menjadi gadis yang kuat dan mandiri” jelas Rani sambil tersenyum manis.
“Iya benar” jawab sang ibu.
“Rani, apa kau baik-baik saja ?” tanya ibunya
“Iya bu??” heran Rani
“Ibu bertanya padamu, apa keadaanmu baik-baik saja ?” tanya ibunya mengulangi pertanyaan dan memastikan.
“Rani baik-baik saja bu. Ibu tidak perlu khawatir” jawab Rani halus. Rani berharap ibunya tidak tahu akan kondisinya saat ini. Ia tidak ingin ibunya merasa sedih dan khawatir.
“Kau tidak perlu menutupi lukamu itu. Kau tahu, perasaan seorang ibu tidak akan pernah salah ?  Ayo, ceritakan peristiwa yang kau alami tadi sehingga kau terluka” ucap ibunya halus.
“Baiklah. Tadi pagi Rani terlalu bersemangat untuk segera pulang ke rumah. Jadi Rani menggoes sepedanya dengan kencang. Waktu itu, Rani tidak terlalu memperhatikan jalan sehingga Rani menabrak pengendara sepeda motor. Tapi bu, itu semua murni kesalahan Rani.” Jelas Rani panjang lebar sambil mengingat peristiwa yang telah ia alami tadi.
“Baguslah jika kau menyadari kesalahanmu. Lain kali, kau harus memperhatikan jalan apabila sedang mengendarai sepeda. Kau harus hati-hati” ucap ibunya memberikan nasihat.
“Iya bu” jawab Rani
“Sekarang cepat habiskan sarapanmu”
Setelah itu, Rani bersiap untuk berangkat ke sekolah. Ia tidak lupa berpamitan dengan sang ibu.
“Ibu, Rani berangkat dulu ya” ucap Rani sambil mencium tangan sang ibu
“Iya, hati-hati di jalan”
“Assalamu’alaikum”
“Waalaikumsallam”
            Dalam perjalanan ke sekolah barunya, Rani terlihat sangat gembira. Hal tersebut terpancar dari wajahnya yang sangat berseri-seri. Sesekali ia menyapa tetangganya yang tidak sengaja bertemu di jalan. Dan kini, ia telah sampai di sekolah barunya, SMA Harapan. Rani pun memarkirkan sepedanya di tempat parkir yang telah disediakan. Lalu ia berjalan memasuki sekolahnya. Ia terkagum-kagum dengan bangunan sekolah ini yang sangat indah dan lingkungannya pun bersih. Banyak pohon di sekitar area sekolah sehingga memberikan kesan sejuk. Ada pula taman yang biasanya siswa gunakan untuk sekedar melepas penat. Dan juga dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas pendukung lainnya yang sangat membantu dalam proses pembelajaran.
            “Sekolah ini besar sekali. Tidak salah jika banyak pelajar yang ingin diterima disini” ucap Rani seraya memandangi sekeliling area sekolah. Dengan segera Rani pun mencari kelas barunya.
            “Dimana kelasku ?” gumam Rani. Ia mengelilingi semua bangunan yang ada di sekolah ini untuk mencari kelasnya.  Ia melihat semua kertas yang ditempelkan di setiap kelas. Dan Rani pun memulai mencari kelasnya.
            “Rani Dewi Hanum”gumam Rani sambil jari telunjuknya ia arahkan pada kertas tersebut untuk mencari namanya. Dan setelah naik turun anak tangga, Rani pun mengetahui kelas mana yang akan ia tempati. “Akhirnya ketemu juga. Alhamdulillah, aku dikelas X-IPA 1. Ibu pasti senang sekali jika mengetahui hal ini” ucap Rani sambil tersenyum memandangi kelas barunya tersebut. Ia segera memasuki kelasnya.
            Di dalam kelas Rani melihat ada banyak siswa yang telah duduk menempati tempatnya masing-masing. Semua tempat telah terisi. Kecuali tempat duduk paling belakang yang masih kosong. Tanpa pikir panjang lagi Rani menuju tempat tersebut. Ia menaruh tasnya diatas meja. Namun ia masih sangat canggung dengan kondisi kelasnya saat ini. Memang Rani bukanlah tipe orang yang mudah beradaptasi dengan orang lain. Sebenarnya Rani adalah gadis yang pendiam apabila ia menghadapi situasi yang baru. Akan memakan banyak waktu baginya untuk beradaptasi dengan teman-temannya. Ia tidak memiliki keberanian untuk sekedar berbicara dengan teman barunya. Hari ini memang jam pelajaran masih belum efektif. Jadi daripada Rani duduk diam di kelas, ia memutuskan untuk pergi ke taman sekolah sekedar untuk menyegarkan pikirannya sebelum pelajaran dimulai. “Lebih baik aku ke taman saja” ucap Rani dengan pelannya. Rani melangkah pergi meninggalkan kelasnya menuju ke taman sekolah. Rani tidak menghiraukan teman-temannya yang tengah asik bercengkrama.
 Sesampainya di taman, Rani segera duduk di bangku taman yang telah disediakan. “Disini udaranya jauh lebih segar dan sejuk” ucap Rani sambil menghirup udara segar di taman. “Hah…mengapa aku tadi tidak membawa buku bacaan” sesal Rani. Ia berani berbicara karena taman ini sangat sepi. Perkiraannya, taman ini jarang dikunjungi oleh siswa. “Ayah, apakah ayah sekarang sedang melihatku dari atas sana ? Rani berharap ayah senang disana karena Rani telah mengabulkan permintaan ayah sekarang. Namun ayah, tidak adil rasanya jika ayah tidak melihat Rani untuk pertama kalinya berseragam putih abu-abu. Ayah disana yang tenang ya, Rani selalu mendoakan ayah agar selalu di sisi-Nya dan ditempatkan di surga ” ucap Rani sambil melihat birunya langit, membayangkan ayahnya yang kini tengah melihatnya dari atas sana. Tak terasa, air mata tiba-tiba jatuh di pipinya. “Rani rindu ayah. Rani berjanji akan belajar dengan baik agar bisa membahagiakan ibu nantinya” Rani mengusap air mata yang jatuh di pipinya dengan menggunakan punggung tangannya. Setelah dirasa cukup, Rani pun beranjak untuk meninggalkan taman tersebut dan kembali ke kelasnya.
            Sesampainya di kelas, Rani terkejut karena sudah ada guru yang mengajar di kelasnya. Ia pun dengan sopan masuk ke kelasnya dan meminta maaf pada guru tersebut karena terlambat datang. Dan sang gurupun memakluminya sehingga Rani dipersilahkan untuk duduk di tempatnya. Rani pun dengan seksama memperhatikan setiap penjelasan dari guru tersebut. Terkadang ia membuat coretan-coretan kecil apabila ada tugas dari sang guru. Selama di sekolah, Rani lebih banyak diam daripada bercengkrama dengan teman barunya. Ia tidak tahu akan berbicara apa dengan temannya. Ia takut jika nantinya ia salah berbicara dan menyinggung perasaan temannya, dan banyak lagi ketakutan lainnya. Maka dari itu, dalam seharian ini, ia hanya duduk diam di bangkunya dan hanya melihat teman-temannya yang sedang tertawa riang. Tiba-tiba Rani merasa ada yang menepuk pundaknya. “Astaga….” kaget Rani. “Mengapa kau terkejut ?” ucap orang tersebut lalu duduk disamping Rani. “Oh tidak. Tadi aku kira siapa, jadi aku terkejut ketika ada orang yang menepuk pundakku” jelas Rani sambil tersenyum ramah. “Perkenalkan namaku Sekar” ucap gadis tersebut yang ternyata bernama Sekar. “Namaku Rani. Rani Dewi Hanum” jawab Rani. Setelah itu keadaan menjadi diam antara Rani dan Sekar. Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Rani yang notabene seorang anak yang pendiam, ia tidak tahu harus mengucapkan apa. Sebenarnya dalam hatinya banyak sekali kalimat-kalimat yang ingin ia ucapkan. Namun, ia takut untuk mengucapkannya terlebih dahulu. “Jangan diam seperti itu. Cobalah untuk berbicara dengan teman yang lainnya” ucap Sekar pada Rani. “Eh ?” bingung Rani. “Cobalah untuk beradaptasi dengan kelas ini dan juga teman-teman yang ada disini” ucap Sekar sekali lagi. “Hmmmm…..Iya, baiklah” balas Rani dengan senyumnya. “Sekar !!!! Kemarilah !!!!” teriak seorang anak perempuan dengan lantangnya. “Haahh…anak itu selalu saja berteriak bila ingin memanggil orang” kesal Sekar. “Ya sudah Rani, aku kesana dulu ya. Anak itu memang tidak tahu aturan. Kau tidak perlu takut padanya” ucap Sekar menjelaskan panjang lebar. Rani hanya mengangguk mengerti dengan penjelasan Sekar. Sekarpun pergi meninggalkan Rani. Kini Rani sendiri lagi.
            Satu minggu sudah Rani bersekolah disini. Pelajaranpun juga sudah dimulai. Dan kini, banyak tugas yang diberikan oleh guru. Rani harus pintar-pintar membagi waktunya. Pasalnya jika ia tidak bisa membagi waktunya, maka semuanya akan kacau. Pagi-pagi sekali Rani sudah bangun seperti biasa. Tak lupa ia melaksanakan rutinitas paginya yaitu mengantarkan koran ke perumahan mewah itu. “Hah….aku harus cepat. Sudah pukul 06.00” ucap Rani sambil melihat jam tangannya. Kini tinggal satu koran lagi yang belum ia antarkan. Setelah pekerjaan mengantar korannya selesai, Rani bergegas untuk berangkat ke sekolah. Memang hari ini ia sengaja langsung memakai seragam sekolahnya. Ia juga membawa bekal untuk dimakannya pada saat jam isitirahat nanti. Hari ini secara tiba-tiba guru matematika mengadakan ulangan dadakan. “Anak-anak, hari ini bapak akan melaksanakan ulangan harian yang pertama untuk pelajaran matematika” ucap guru matematika tersebut. Sontak seluruh kelas menjadi ramai dan gaduh akibat perkataan guru tersebut. “Yaaaahhhh…..Pak, ini baru saja kami masuk sekolah. Masa sudah ada ulangan ” ucap salah seorang murid yang berbadan besar. “Iya pak benar itu” murid yang lainnya pun ikut menimpali. Rani yang melihat peristiwa tersebut hanya bisa diam, Toh jika ia ikut berbicara seperti yang lainnya, tetap saja sang guru akan melaksanakan ulangan. Maka lebih baik ia diam dan mengikuti segala prosedur yang telah ada. “Diam semuanya !!!!” ucap guru tersebut. Dan kini suasana menjadi hening. Tanpa basa basi lagi guru itupun membagikan soal ulangan matematika. Semua murid tampak sibuk dengan soal beserta jawabannya. Ada juga murid yang menunggu jawaban dari temannya. Setelah berkutat dengan ulangan tadi, kini tiba waktunya pikiran mereka diistirahatkan, karena ini sudah jam istirahat. Rani pun dengan segera mengeluarkan bekal makanan yang ia bawa dari rumah tadi. Ia melihat teman-temannya sedang berbisik-bisik sambil melihatnya. ‘Apa ada yang salah denganku hari ini, sehingga teman-temanku melihatku seperti itu ?’ batinnya. “Ya ! Apa kau tidak lihat gadis yang bernama Rani itu ? Menurutku dia gadis yang aneh” ucap gadis berambut keriting itu pada temannya. “Iya. Kupikir ia orang yang tidak ingin bersosialisasi. Mengerikan sekali” jawabnya sambil bergidik ngeri. “Benar apa yang kau katakan. Mungkin dibalik diamnya itu terdapat sesuatu yang bisa membahayakan kita” ucap gadis berkacamata. Kini ketiga gadis itu tengah memperhatikan setiap gerak-gerik Rani dari kejauhan. “Kita patut waspada. Daripada kita memperhatikan dia seperti ini, lebih baik kita ke kantin saja” ajak gadis berambut keriting pada temannya. “Ayo…ayo” jawab mereka serentak.
            Keesokannya, seluruh kelas heboh karena hasil ulangan kemarin. Mereka tak menyangka jika orang yang selama ini mereka pandang sebelah mata ternyata tidak pantas untuk disepelekan begitu saja. Seperti peribahasa mengatakan air tenang menghanyutkan. Selama ini Rani tidak pernah berbicara bukan berarti ia orang yang pendiam dalam hal pelajaran. Prinsipnya, ia boleh saja diam dikala teman-temannya bercengkrama bersama. Tetapi dalam hal pelajaran, ia tidak akan diam. Ia akan berusaha keras untuk memperoleh nilai yang baik. Dan sekarang jerih payahnya tidak sia-sia. “Kau ini pandai sekali. Bagaimana bisa kau menjawab semua soal itu dengan benar ?” tanya teman yang duduk didepannya “Iya. Ternyata dibalik diammu itu ada sesuatu yang terpendam. Seperti emas saja” puji yang lainnya. “Ajari kami supaya mendapatkan nilai yang bagus sepertimu ya” ucap Sekar yang tiba-tiba datang. “Iya. Dengan senang hati aku akan mengajari kalian” jawab Rani dengan halus. “Oh iya, kau juga tidak perlu sungkan untuk meminta bantuan dari kami” ucap temannya lagi. Rani hanya menjawabnya dengan anggukan serta senyuman hangatnya. Bel pulang sekolah sudah berbunyi, menandakan waktunya untuk kembali ke rumah. Rani segera menuju ke tempat parkir untuk mengambil sepedanya. “Rani, aku pulang duluan ya” ucap Sekar berjalan mendahului Rani. “Iya” jawab Rani. Sesampainya di tempat parkir, Rani terkejut karena ban sepedanya bocor. Dan disekitar sekolahnya pun tak ada bengkel. Ia sangat panik. Bagaimana ia bisa pulang jika sepedanya seperti ini. Jarak sekolah ke rumahnya pun lumayan jauh. Ditengah kesedihannya meratapi sepeda yang bocor itu, tiba-tiba ada seorang pengendara motor yang berhenti di depannya. “Mengapa dengan sepedamu ?” tanya pengendara motor tersebut yang ternyata seorang laki-laki. Rani tidak mengindahkan suara tersebut dan ia masih terus menunduk. “Apa kau mendengarku ?” ucap laki-laki tersebut sambil menepuk pundak Rani. Rani pun segera menoleh kepada orang yang telah menepuk pundaknya tadi. “Kau ??” kaget laki-laki tersebut. Rani hanya bisa diam melihat laki-laki tersebut. Ia tidak berani berbicara dengan anak laki-laki. Ia takut sekali. “Hei..Mengapa kau takut seperti itu padaku ??” heran laki-laki tersebut. “Oh…Eh…a..a..ak..aku” jawab Rani tergagap karena ia takut sekali apabila berhadapan dengan laki-laki yang belum pernah dikenalnya. “Kita bertemu lagi. Kau tidak mengenaliku ?” tanya laki-laki tersebut memastikan. Rani hanya menjawab dengan anggukan kepala. “Baiklah jika kau tidak ingin berbicara padaku. Tapi boleh kutahu ada apa dengan sepedamu ?” tanyanya lagi dengan halus. “Sepedaku bannya bocor” jawab Rani pelan namun masih didengar oleh laki-laki tersebut. Bila dilihat-lihat, laki-laki ini masih satu sekolah dengan Rani. Buktinya saja seragam sekolah mereka sama. Terbesit niatan Rani untuk meminta bantuannya. Namun sebelum ia mengutarakan niatnya tersebut, laki laki itu berkata “Tidak perlu khawatir, aku akan membantumu. Ini sebagai ganti rugiku yang telah menabrakmu dulu” ucap laki-laki tersebut sambil melihat-lihat ban sepeda Rani. “Ini tidak bocor. Hanya kempes saja” ucapnya lagi. “Oh” gumam Rani pelan. “Kau tunggu disini dulu, akan kupinjamkan pompa sepeda di sekitar sini“. Beberapa menit kemudian laki-laki tersebut kembali dengan membawa pompa sepeda. Dan akhirnya sepeda Rani bisa digunakan kembali. “Terima kasih, kak…..” ucap Rani menggantung karena tidak tahu siapa nama laki-laki tersebut. “Adit” jawab laki-laki tersebut yang ternyata bernama Adit. “Oh iya, terima kasih kak Adit” ucap Rani. “Ya sudah kalau begitu aku pulang duluan ya. Oh iya, hati-hati di jalan” ucap Adit sambil menancapkan gas sepeda motornya.
            Hari-hari Rani lalui dengan semangat. Kini sedikit demi sedikit Rani bisa beradaptasi dengan teman-temannya. Berkat kepandaiannya, banyak orang yang bertanya padanya. Seperti peribahasa semakin tinggi pohon, maka semakin banyak angin yang meniupnya.Tetapi dibalik itu semua ada orang yang ingin menjatuhkan Rani. Saat jam istirahat, Rani gunakan untuk pergi ke perpustakaan. Ia ingin meminjam buku baru lagi. Dan kelaspun sepi. Waktu itulah Lutfi gunakan untuk mengambil buku pekerjaan Rani yang berisi tugas yang harus dikumpulkannya hari ini. Dan ia segera membuangnya agar tidak ada orang yang menemukannya. “Kita buktikan seberapa kuat diammu itu. Apa dengan hilangnya bukumu itu, kau akan tetap berdiam diri dan mencarinya seorang diri ? Jangan pernah mengalahkanku” ucap Lutfi sambul tersenyum sinis. Istirahat pun selesai. Dan kini waktunya pengumpulan buku tugas. “Dimana bukuku ???” panik Rani. Ia mencari diseluruh tasnya dan juga laci meja tetapi tidak ada. Sementara Rani sibuk mencari bukunya, terpancar kebahagiaan serta kemenangan dari raut wajah Lutfi. “Siapa yang belum mengumpulkan buku tugas ?” tanya guru tersebut. Rani pun mengangkat tangan kanannya. “Rani ?” kaget guru tersebut dan segera menghampiri bangku Rani. “Ada apa denganmu sehingga tidak mengumpulkan buku tugas ?” tanya guru tersebut dengan serius. “Saya sudah mengerjakannya pak kemarin, dan buku tugasnya juga sudah saya persiapkan kemarin di tas. Tetapi sekarang buku tugas saya tidak ada pak di tas. Saya sudah mencarinya di laci meja” ucap Rani panjang lebar. “Apa kamu tahu konsekuensi jika tidak mengumpulkan tugas ?” tanya guru tersebut dengan tegasnya. “Iya pak. Konsekuensinya, saya harus keluar dari kelas hingga pelajaran bapak berakhir” ucap Rani sambil menunduk. “Baiklah, kalau begitu cepat laksanakan!” perintah sang guru. Rani pun berjalan dengan lemas menuju keluar kelas. Banyak pasang mata memperhatikan Rani dengan berbagai macam ekspresi. Ada yang sedih, kaget dan juga bingung. Seberapa besar Rani menjelaskannya pasti sang guru akan tetap pada pendiriannya. Di luar kelas, Rani hanya berdiam diri. Sesekali ia mendengarkan penjelasan dari guru walaupun tidak terlalu jelas dari luar kelas. Terdengar langkah kaki yang terburu-buru dari arah samping kelasnya. Dengan tiba-tiba ia berhenti di depan Rani dan memperhatikannya. “Kita bertemu lagi” sapanya ramah. “Eh ??” ucap Rani sambil mengangkat kepalanya. “Mengapa kau berdiri disini ?” tanya lelaki tersebut yang ternyata Adit. “A…a..ak..aku” gagap Rani. Belum selesai Rani melanjutkan ucapannya, pintu kelasnya terbuka dan sang guru mempersilahkan Rani untuk masuk kambali. Rani dengan segera masuk ke kelasnya tanpa menghiraukan kehadiran Adit. “Apa dia selalu takut jika bertemu denganku ? Sebegitu menyeramkankah aku ?” gumam Adit pada dirinya sendiri. Dan ia pun melanjutkan langkahnya menuju ke kantin.
            Di dalam kelas, semua memerhatikan kedatangan Rani. Wajah mereka seakan menyiratkan rasa ketidakpercayaannya pada Rani yang mereka anggap sebagai anak yang rajin, baik, sopan dan pendiam ternyata dia bisa juga tidak mengerjakan tugas. “Lihat dia. Apa sekarang kau percaya padanya ?” bisik Lutfi dengan teman sebangkunya. Ia berusaha menjelekkan Rani. “Aku tidak menyangka jika ia begitu” jawab temannya dengan sangat pelan. “Aku tidak ingin berteman dengannya jika dia seperti itu. Dia memang misterius sekali” ujar gadis yang lainnya ikut membicarakan Rani. Rani yang mendengar teman-temannya sedang membicarakannya pun hatinya merasa miris. Mengapa hanya dengan peristiwa semacam ini, ia dimusuhi oleh teman satu kelasnya sendiri. Rasanya tidak masuk akal sekali. Ia hanya bisa berdiam diri dibangkunya. Tidak ada teman yang ia ajak untuk bicara dan berbagi. Ia kini sendiri. Bel pulang sekolah telah berbunyi. Rani bersiap untuk pulang. Ia berjalan gontai menuju tempat parkir. Sesampainya disana ia mengambil sepedanya dan tiba-tiba saja ada es krim di depannya. “Untukmu” ucap orang tersebut sambil memberikan es krim kepada Rani. “Kau selalu saja takut padaku jika aku berbicara denganmu. Maka dari itu, untuk mengurangi rasa takutmu, kubelikan kau es krim ini” jelas Adit. “Ini, ambillah. Kau tidak ingin kan tenganku lengket akibat es krim ini ?” ucap Adit lagi sambil melihat tangannya yang terkena cairan es krim yang meleleh. “Terima kasih” kata Rani pelan. “Mau pulang ya ?” tanya Adit lagi. Rani hanya menjawab dengan anggukan kepala. Adit sudah bisa menebaknya. Rani berjalan pergi meninggalkan Adit yang masih berdiri di depannya. “Apa kau seorang yang pendiam ? Susah sekali mengajakmu berbicara” ucap Adit sambil terus memandangi kepergian Rani.
            Sesampainya di rumah, Rani langsung masuk ke kamarnya. Ibunya yang merasa aneh dengan sikap Rani pun segera ke kamar anak satu-satunya terebut. “Ada apa denganmu ?” ucap sang ibu halus sambil duduk di sebelah Rani. “Tidak apa-apa bu” ucap Rani halus. “Jangan pernah berbohong kepada ibu dan jangan pernah memendam semuanya sendiri. Sekarang ceritakan kepada ibu, ada masalah apa ?” tanya ibunya halus. “Ibu, apa sebenarnya Rani orang yang menakutkan ?” tanya Rani pada ibunya. “Siapa yang mengatakan seperti itu ? Kamu orang yang baik. Jangan pernah berpikir jika kamu orang yang menakutkan.” Kata ibunya dengan halus disertai senyumnya. Ia tahu keadaan sang anak sekarang yang sedang ada masalah di sekolahnya. “Dan lagi, mengapa teman-teman Rani tidak ada yang dekat dengan Rani ? Mengapa mereka tidak ada disaat Rani membutuhkan mereka ?” tanya Rani bertubi-tubi. Tanpa Rani sadari, air matanya jatuh. Ia menangis dihadapan sang ibu. Sebenarnya, Rani tidak ingin menangis di depan ibunya, tapi keadaanlah yang membuatnya ingin menangis. Ibunya yang mengetahui anaknya menangis langsung memeluknya, memberikan kesan hangat padanya agar ia tenang. “Tenanglah. Ibu akan selalu disisimu. Menagislah jika itu membuatmu menjadi tenang” ucap ibunya menenagkan Rani. “Hiks…hiks…Ibu, Rani tidak tahan bu seperti ini. Rani lelah dengan semua ini. Mengapa mereka memperlakukan Rani dengan semena-mena ?” tanya Rani dalam dekapan ibunya. “Rani, mereka memperlakukanmu seperti itu bukan berarti mereka takut denganmu. Justru kamu harus bersyukur mereka takut kepadamu. Takut dalam kata ini jangan kau artikan yang negatife. Justru kamu harus mempunyai pikiran bahwa mereka takut kepadamu berarti kamu itu orang yang disegani” jelas ibunya. “Iya bu, Rani mengerti.” Ucap Rani sambil menghapus air matanya dengan tangannya. “Ya sudah, jangan dipikarkan lagi perkataan temanmu yang seperti itu. Anggap saja kamu tidak pernah mendengarnya. Jika kamu terus memikirkannya itu akan berakibat pada kondisi kesehatanmu”ucap ibu sambil mengelus rambut Rani. “Baiklah bu, Rani akan mencobanya. Doakan Rani ya bu, semoga Rani lancar dan kuat menghadapi segala cobaan yang ada disekolah”.
            Hari-hari Rani lalui dengan diam dan duduk di bangku kelasnya. Kini ia sendiri lagi. Tidak ada teman disampingnya. Namun, dalam hal pelajaran Rani tetap bisa memperoleh nilai yang baik. “Rani, jangan berdiam diri saja. Kau membuat kami takut dengan diammu itu” ucap Lutfi berjalan menghampiri Rani. Rani hanya diam mendengarnya. “Apa kau ingin seluruh teman satu kelasmu merasa takut dengan diammu itu ?” tanya Lutfi dengan sinis. “Kau itu, bisakah berbicara jika ada orang lain yang mengajakmu bicara ? Jangan hanya diam saja. Oh, apa karena kau anak yang pintar maka kau bersikap acuh pada kami ? Jawablah !!!!” bentak Lutfi. “Terima kasih atas saranmu. Akan aku usahakan untuk lebih banyak bicara pada orang lain. Kau tahu peribahasa air tenang menghanyutkan ? Memang aku orang yang pendiam, tetapi diamku itu bukan berarti aku tidak ingin berbicara pada orang lain. Aku hanya takut jika aku berbicara akan menyakiti hati orang lain. Aku berharap kau bisa menerima jawaban dariku” jelas Rani dengan halus disertai senyuman manisnya. Ia tidak akan meluapkan emosinya hanya karena Lutfi berkata seperti itu padanya. Ia teringat dengan perkataan ibunya bahwa ia tidak boleh emosi dalam menghadapi segala sesuatu. Baik ia dihina temannya pun jangan pernah emosi atau marah. “Cih…Kau itu sok berwibawa. Katakan saja sebenarnya di dalam hatimu kau itu menahan segala rasa emosi mu kan. Cepat tunjukkan padaku bagaimana orang pendiam marah ? Apakah diammu itu berarti kau marah ?” ejek Lutfi. Sekali lagi Rani hanya diam mendengarnya. Ingin rasanya ia menangis saat ini juga tetapi itu tidak mungkin. Jika ia menangis, itu menandakan bahwa ia adalah orang yang lemah. “Ada apa ini ?” tanya Sekar yang tiba-tiba datang dan langsung menghampiri Rani dan Lutfi. Ia melihat situasi diantara keduanya sedang tidak baik. “Tidak ada apa-apa Sekar. Tadi Lutfi ingin mengajakku ke kantin, tetapi aku tidak bisa” ucap Rani berbohong. “Benarkah itu Lutfi ?” tanya Sekar menyelidik. “I..iy..iya. Itu benar. Hehe” ucap Lutfi sambil cengengesan. Dan ia pun segera pergi meninggalkan Rani dan Sekar. “Sebenarnya ada apa ?” tanya Sekar yang kini duduk disebelah Rani. “Kau tidak perlu khawatir Sekar, tidak terjadi hal yang serius padaku dan Lutfi” jelas Rani halus. “Baguslah jika begitu” lega Sekar. “Kau harus hati-hati padanya. Dia itu orangnya licik” ucap Sekar lagi. “Jangan berbicara seperti itu. Dia itu orang yang baik.” Jawab Rani. “Kau itu terlalu baik kepada orang lain”.
            Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kini Rani tengah mempersiapkan diri untuk Ujian Kelulusan. Sejak peristiwa itu, hubungan Rani dengan Lutfi serta teman-temannya yang lain semakin buruk saja. Sikap Rani di sekolah juga belum berubah. Ia masih saja berdiam diri sendiri. Dulu, ada seorang guru yang menegur sifat Rani yang pendiam. Guru tersebut menganggap Rani tidak bisa bersosialisasi dengan lingkungannya. Rani hanya bisa bersabar saja. Ia harap teman-temannya akan mengerti dirinya. “Rasanya, aku ingin sekali mempunyai kesan yang mendalam saat SMA” gumam Rani pelan. Ia sedang duduk di taman sekarang. Menurutnya, taman bisa memberikan penyegaran baginya. “Apa kalian menganggapku tidak ada ?” tanyanya pada diri sendiri. “Hei, kita berjumpa lagi” sapa Adit ramah. “Ka..ka..kakak ?”ucap Rani tergagap. “Satu hal yang ingin aku tanyakan padamu. Dari dulu aku penasaran sekali, mengapa kau selalu takut jika setiap bertemu denganku ? Apa aku sebegitu menyeramkankah dimatamu ?”tanya Adit bertubi-tubi. “Kakak, apa kakak sedang menginterogasiku ?”tanya Rani. Kini Rani mulai akrab dengan kakak kelasnya ini.”Yeeeeeaaahhhhhhh…..Akhirnya kau bicara juga denganku.Tunggu…tunggu..ehhmmm…tadi kau mengucapkan..satu,dua…ahhh…lima kata. Ya,kau tadi mengucapkan lima kata”sambil menghitung dengan girangnya.Sontak,Rani tertawa terbahak-bahak mendengarnya.”Kakak ini ternyata lucu sekali”sambil tertawa.”Kalau kau tertawa begitu,wajahmu menjadi cerah”.”Kakak,bolehkah aku bertanya padamu?”ucap Rani serius.”Katakanlah.Aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu”jawab Adit.”Bagaimana perasaanmu jika selama di SMA, kau tidak mempunyai kesan indah serta teman baik? ”tanya Rani sambil memandang lurus kedepan.Hening sesaat diantara keduanya.”Tidak apa jika aku tak punya kesan yang indah semasa SMA, yang terpenting aku bersekolah bukan untuk mencari teman.Melainkan aku sekolah untuk menuntut ilmu.Biarkanlah orang berkata negatife padamu.Tetaplah pegang prinsipmu.Mungkin selama di SMA ini kau tidak mempunyai teman,tetapi dimasa yang akan datang nanti siapa yang tahu kau jadi apa.Mungkin saja,kau akan lebih sukses daripada orang yang telah meremehkanmu itu.Bersabarlah”jelas Adit dengan bijaknya.”Kakak,kau tahu,pemikiranmu sungguh bijak sekali”puji Rani.”Aku senang sekali kau sudah bisa berbicara denganku.Mulai sekarang,jangan pernah takut jika ada orang yang ingin mengajakmu bicara.Kau paham?”ucap Adit menghadap ke Rani.”Aku paham.Oh iya,sudah bel masuk.Aku ke kelas dulu ya kak”ucap Rani sambil berlari meninggalkan Adit.”Hari ini indah sekali”ucap Adit sambil melihat langit.
            Bel pulang sekolah telah berbunyi.Semua murid berhamburan untuk keluar sekolah.Suasana di sekitar sekolah pada jam pulang pun ramai.Banyak kendaraan yang berhenti didepan sekolah,sehingga menyebabkan kemacetan kecil.Rani tengah menuntun sepedanya menuju gerbang sekolah.Rencananya hari ini,ia akan berkunjung ke makam ayahnya.Namun,sebelum ia sampai didepan gerbang sekolah, langkahnya terhenti dan pandangannya tertuju pada Lutfi yang tengah menyeberang tanpa melihat kondisi jalan yang ramai dikarenakan ia sedang memainkan ponselnya.”Lutfi awaaaaaas !!!!!!”teriak Rani berlari kearah Lutfi dan mendorong tubuh Lutfi hingga ke tepi jalan.Lutfi terselamatkan,hanya ada luka kecil akibat benturan aspal.Namun Rani,ia pingsan ditempat karena tertabrak mobil.Lutfipun segera bangkit menghampiri Rani yang kini tengah dikerumuni oleh banyak siswa serta warga sekitar.”Ra…Ra..Rani”ucap Lutfi tergagap tidak percaya.Ternyata orang yang menyelamatkan nyawanya adalah Rani,orang yang sangat Lutfi benci.”Tidak mungkin.Rani,bangunlah !!! Kau pasti sedang bergurau saja kan ? Cepat bangunlah !!! Apa kau pikir dengan cara seperti ini,aku mau bersahabat denganmu eoh ? Bangunlah gadis menakutkan!!!!!!”teriak Lutfi histeris sambil mengguncangkan tubuh Rani yang pingsan.
            Dua minngu sudah Rani dirawat di rumah sakit.Dan ia senang karena peristiwa tersebut,sikap Lutfi berubah padanya.Ia kini lebih baik pada Rani.Lutfi kini telah menyadari kesalahannya.Kebahagiaan Rani bertambah tatkala semua teman-temannya yang tak pernah menyapanya barang sekalipun,mulai bersikap baik juga padanya.Kesabaran Rani selama ini membuahkan hasil yang baik.”Rani,kudengar kau mendapatkan beasiswa ke Inggris”ucap Sekar.”Benarkah itu?Aku sama sekali tidak mengetahuinya”jawab Rani halus.”Itu memang benar”ucap Adit yang baru saja datang.”Kakak?”heran Rani.”Hai”sapanya.”Disaat kau sakit seperti ini,kau tetap saja diam.Coba aku lihat,apa ini sakit?”sambil memegang luka yang ada di tangan Rani.Kontan saja Rani merintih kesakitan.”Awww…”rintihnya menahan sakit.”Masih sama.Apa kau akan mengatakan jika lukamu itu biasa saja?”tanya Adit.”Apa maksud kakak?”tanya Rani heran.”Sudahlah,tak perlu dibahas.Ini semua berkasmu untuk berangkat ke Inggris lusa”sambil menyerahkan beberapa dokumen penting.”Jadi,ini semua…”ucapan Rani terpotong oleh ucapan Lutfi “Iya gadis pendiam.Kau mendapat beasiswa ke Inggris.Bukankah itu impianmu selama ini?”tanya Lutfi.Rani mulai terharu mendengar semua ucapan dari temannya.”Terima kasih semuanya.Aku berjanji akan merubah sikap diamku ini.Aku akan membuktikan jika dibalik diamku ini ada emas yang orang lain tak tahu.Maafkan aku karena telah membuat kalian merasa takut padaku”ucap Rani disertai airmata.”Sudahlah,yang lalu biarlah berlalu.Jangan dipikirkan lagi”ucap Lutfi mendekat pada Rani sembari memeluknya hangat.”Terima kasih”.
            Kini tiba saatnya Rani berangkat ke Inggris.Ia akan mewujudkan impiannya selama ini.Ibu Rani sekarang sudah mempunyai rumah sendiri dan tak perlu mengontrak lagi.Rumah tersebut adalah rumah pemberian ayah Lutfi kepada Rani yang telah menyelamatkan nyawa anaknya.Teman-teman Ranipun ikut mengantarkan kepergian Rani.”Semoga disana kamu menjadi anak yang berguna ya.Ingat, jangan lupa ibadahnya”nasihat sang ibu sambil memeluk Rani.”Iya bu”jawab Rani.”Rani,terima kasih telah mengajarkan kami bagaimana cara menghargai orang lain”ucap Lutfi.”Iya,maafkan aku karena selama ini hanya bersikap diam kepada kalian semua”.Terdengar suara pengumuman keberangkatan’Pengumuman ditujukan kepada seluruh penumpang,bahwa pesawat dengan tujuan Inggris akan segera diberangkatkan’.”Sudahlah,cepat berangkat.Kau tidak ingin ketinggalan pesawatmu kan?”tanya Sekar.”Baiklah,aku berangkat ya.Jaga diri semuanya.”ucap Rani meninggalkan sahabatnya beserta ibunya sambil melambaikan tangan dengan senyum bahagianya.

            Batu yang sangat keras apabila ditetesi air sedikit demi sedikit pasti akan berlubang.
            Bersabarlah dalam menghadapi segala sesuatu. Suatu saat nanti,pintu kebahagiaan akan
            terbuka lebar untukmu.Biarkanlah orang lain berpikir negative terhadapmu.Kau akan
            merasa hidupmu lebih indah jika menghadapi suatu masalah.Dengan masalah itu,kita
            diuji agar bisa menghadapinya dengan ikhlas.Raihlah impianmu setinggi langit.
            Jangan biarkan impian yang telah kau genggam,terbuang sia-sia seperti angin yang
            tak berbekas.